• Sabtu, 18 April 2026

250 Ton Beras Ilegal Masuk Sabang Disegel, Menteri Pertanian Minta Pelaku Diusut

Photo Author
Zahar Ali, Pinrang 24 Jam
- Minggu, 23 November 2025 | 22:58 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengumumkan penyegelan 250 ton beras ilegal tanpa izin (youtube/@KementanRI)
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengumumkan penyegelan 250 ton beras ilegal tanpa izin (youtube/@KementanRI)

PINRANG.24JAMNEWS.COM -Pemerintah menyegel 250 ton beras yang masuk ke Sabang tanpa izin resmi dari pemerintah pusat, setelah memastikan bahwa seluruh proses pemasukan barang tersebut tidak melalui mekanisme perizinan yang sah. 

Penyegelan dilakukan di gudang PT Multazam Sabang Group setelah memastikan seluruh proses pemasukan beras tersebut tidak melalui mekanisme perizinan yang sah.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa laporan mengenai masuknya beras tersebut diterima sekitar pukul 02.00 WIB dan langsung ditindaklanjuti dengan koordinasi bersama aparat penegak hukum (APH) pada Ahad, 23 November 2025.

Baca Juga: Produksi Beras 2025 Tembus Rekor Tertinggi, Pemerintah Tegaskan Penguatan Ketahanan Pangan

Pada laporan awal, Menteri Pertanian mengatakan bahwa stok beras nasional saat ini berada di posisi tertinggi sehingga impor tidak diperlukan.

“Ada beras masuk di Sabang, 250 ton, tanpa izin dari pusat. Kami langsung telpon Polda, Bareskrim, dan Pangdam. Berasnya langsung kami segel, tidak boleh keluar,” ujar Amran.

Ia menegaskan bahwa Presiden telah menyampaikan instruksi jelas untuk tidak melakukan impor beras karena stok nasional mencukupi.

Baca Juga: Wapres Gibran Pidato Sesi Kedua di KTT G20 Afrika Selatan, Sebut Program MBG Sebagai Investasi Strategis Indonesia

“Kalau Panglima tertinggi, Bapak Presiden, sudah menyampaikan tidak boleh impor, maka seluruh aparat harus patuh,” tegasnya.

Menurutnya, terdapat kejanggalan dalam proses pengajuan rapat koordinasi terkait impor tersebut. Ia mengungkapkan bahwa rapat digelar di Jakarta pada 14 November, namun izin impor dari Thailand sudah lebih dulu terbit.

“Berarti ini sudah direncanakan. Bahkan dalam risalah rapat, Dirjen, Deputi, dan Bappenas menolak, tapi tetap dilakukan,” katanya.

Baca Juga: Indonesia Dorong Akses Pembiayaan Adil bagi Negara Berkembang di KTT G20 Johannesburg

Menteri juga menyoroti alasan bahwa harga beras Thailand - Vietnam lebih murah. Ia menjelaskan bahwa rendahnya harga terjadi karena Indonesia tidak melakukan impor masif dalam dua tahun terakhir.

“Dua tahun terakhir kita impor lebih dari 7 juta ton lebih. itu nilainya dengan jagung sekitar 100 triliun. Tapi tahun ini stok kita sangat cukup, bahkan diperkirakan jadi yang tertinggi di akhir tahun,” jelasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zahar Ali

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X