PINRANG.24JAMNEWS.COM - Jagat maya baru-baru ini diguncang oleh dua peristiwa kontras yang melibatkan masa depan generasi muda Indonesia.
Fenomena tersebut memicu gelombang diskusi publik setelah mencuatnya konten kontroversial dari seorang alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berinisial DS.
Polemik ini disusul kabar duka atas meninggalnya pelajar berusia 14 tahun di Maluku akibat dugaan penganiayaan oleh oknum anggota Brimob berinisial MS.
Baca Juga: Kematian Bocah 12 Tahun di Sukabumi: Hasil Autopsi Ungkap Luka Bakar dan Dugaan Kekerasan Ibu Tiri
Merespons rentetan peristiwa yang menyita perhatian tersebut, komika sekaligus figur publik Arie Kriting menyampaikan kegelisahannya melalui media sosial.
Ia menyoroti adanya krisis empati dan loyalitas terhadap bangsa di tengah berbagai persoalan yang melanda tanah air.
"Betapa membingungkan hidup di negara ini," tulis Arie memulai pernyataannya dalam unggahan Instagramnya @arie_kriting, pada Minggu, 22 Februari 2026.
Baca Juga: Revitalisasi Taman Semanggi Rp134 Miliar Dimulai, Pramono Anung Pastikan Tanpa APBD
Arie secara spesifik menyuarakan kekecewaannya terhadap narasi "Cukup Saya WNI, Anak Jangan" yang diunggah oleh DS.
Unggahan tersebut memicu polemik karena dianggap tidak menghargai kontribusi negara melalui dana pajak yang telah membiayai pendidikan sang alumni di luar negeri.
Menurut Arie, rasa cintanya terhadap negara sempat terusik ketika melihat seseorang yang telah mendapatkan fasilitas dari rakyat justru menunjukkan sikap yang merendahkan identitas kebangsaannya sendiri.
Baca Juga: Usai Sidang KKEP, Polri Resmi PTDH Eks Kapolres Bima Kota Terkait 16,3 Gram Sabu
"Baru kemarin, rasa nasionalisme-ku terusik. Seorang penerima beasiswa yang hidup dari uang pajak kita, merendahkan negara ini," ungkap Arie.
"(Tertulis) 'Cukup aku yang WNI, anakku jangan', begitu katanya, membuat saya kesal juga," imbuhnya.