PINRANG.24JAMNEWS.COM - Unit antiteror Korps Bhayangkara kini berada dalam posisi siaga tinggi guna menjamin keamanan masyarakat selama periode mudik dan perayaan Idulfitri 1447 Hijriah.
Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri secara resmi memperketat pengawasan terhadap seluruh potensi ancaman radikalisme sebagai respons langsung atas instruksi Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo.
Langkah preventif ini diambil di tengah eskalasi geopolitik internasional yang melibatkan konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang dikhawatirkan berdampak pada stabilitas dalam negeri.
Baca Juga: Transformasi Baru Terorisme di Indonesia: BNPT Sebut Kondisi Kini Masuk Fase Manajemen Risiko
Peningkatan intensitas pemantauan ini dilakukan untuk mendeteksi secara dini setiap pergerakan kelompok terlarang yang mungkin memanfaatkan momentum hari raya.
Juru Bicara Densus 88, Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa dinamika situasi di Timur Tengah menjadi salah satu variabel penting dalam pemetaan risiko keamanan saat ini.
“Sebagaimana arahan Kapolri, situasi global saat ini sedang memanas dan melibatkan banyak negara serta kepentingan. Oleh karena itu, Densus 88 meningkatkan pengawasan terhadap ancaman terorisme yang berpotensi mengganggu keamanan masyarakat,” ujarnya di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.
Baca Juga: Diplomasi Ekonomi AS-Indonesia: Perjanjian ART Amankan Tarif 0 Persen untuk Ribuan Produk Ekspor
Target utama dalam Operasi Ketupat 2026 adalah mempertahankan rekor tanpa serangan teror (zero terrorist attack) yang telah berhasil dijaga selama tiga tahun berturut-turut.
Berdasarkan catatan kepolisian, sepanjang tahun 2025, tindakan proaktif berupa preventive strike telah berhasil meringkus 51 tersangka terorisme, termasuk tujuh target yang diamankan pada musim mudik tahun lalu.
Kendati demikian, aparat keamanan tetap memberikan perhatian serius pada belasan ribu profil yang masuk dalam daftar pemantauan nasional.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Rp55 Triliun untuk THR ASN 2026, Ojek Online Juga Kebagian Bonus Hari Raya
Adanya simbol-simbol perlawanan di level internasional dinilai dapat memicu aktivitas kelompok tertentu yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.
“Ini menjadi pekerjaan rumah bagi rekan-rekan, khususnya Densus 88, untuk mempertahankan zero terrorist attack. Konflik global yang terjadi saat ini memiliki potensi memicu pergerakan tertentu yang harus kita antisipasi,” tegas Kapolri dalam rapat koordinasi kesiapan Operasi Ketupat 2026 pada Senin, 2 Maret 2026.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Selidiki Laporan KPK Terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Saksi Linda Susanti
Jalan Rusak Parah di Dusun Bottae Hambat Aktivitas Warga, Lubang dan Aspal Terkelupas Mengancam Keselamatan
Kabar Gembira Bagi Tenaga Pendidik: Seskab Teddy Ungkap Kenaikan Insentif dan Transformasi Penyaluran Tunjangan Guru
Sudah Dipecat Tapi Masuk Daftar Mutasi Kapolri, Ternyata Ini Nasib AKBP Didik Putra Kuncoro Sebenarnya
Serangan AS-Israel, Sebut Tewasnya Ali Khamenei Sebagai Pembunuhan Terencana