• Sabtu, 18 April 2026

Mengejar Pertumbuhan 8 Persen: Strategi MIND ID Bawa Ekonomi Indonesia Keluar dari Middle Income Trap

Photo Author
Zahar Ali, Pinrang 24 Jam
- Rabu, 11 Februari 2026 | 15:49 WIB
Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan, saat memaparkan materi "Ekonomi Inklusif untuk Indonesia Naik Kelas" di Aula Barat ITB, Bandung (Dok. Mind ID)
Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan, saat memaparkan materi "Ekonomi Inklusif untuk Indonesia Naik Kelas" di Aula Barat ITB, Bandung (Dok. Mind ID)

PINRANG.24JAMNEWS.COM - Indonesia kini berada di titik krusial untuk melakukan transformasi ekonomi besar-besaran guna keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.

Wakil Direktur Utama Mining Industry Indonesia (MIND ID), Dany Amrul Ichdan, menegaskan bahwa sudah saatnya nasional "naik kelas" dengan mengejar target pertumbuhan ekonomi di level 8 persen melalui optimalisasi keunggulan komparatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pernyataan tersebut disampaikan Dany dalam agenda Studium Generale bertajuk “Ekonomi Inklusif untuk Indonesia Naik Kelas” yang berlangsung di Aula Barat ITB Bandung, Rabu, 11 Februari 2026.

Baca Juga: Strategi Penguatan Portofolio: Menyeimbangkan Fleksibilitas Investasi Saham dan Mitigasi Risiko

Dalam forum yang juga dihadiri Menko Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, dan Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara tersebut, Dany menyoroti struktur ekonomi nasional yang selama bertahun-tahun cenderung stagnan di angka 5 persen akibat ketergantungan pada komoditas mentah.

"Selama lebih dari satu dekade, ekonomi Indonesia seolah nyaman di angka 5%. Padahal, dengan modal yang kita miliki, Indonesia seharusnya mampu melompat ke tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi," kata Dany.

Guna mewujudkan lompatan tersebut, Dany yang telah menguraikan strategi pembangunan berkualitas dalam bukunya ‘Indonesia Naik Kelas’ pada akhir 2025 lalu, menekankan pentingnya mengelola cadangan mineral strategis.

Baca Juga: DPR RI Tegaskan PBI BPJS Kesehatan Tetap Aktif di Tengah Polemik Penonaktifan

Saat ini, Indonesia tercatat sebagai pemilik cadangan nikel, timah, emas, bauksit, hingga batubara peringkat atas dunia dengan masa cadangan mencapai puluhan tahun.

Namun, potensi ini dinilai belum termanfaatkan maksimal karena kontribusi pajak dan royalti terhadap PDB masih di kisaran 9-10 persen, tertinggal jauh dari negara maju yang mencapai 30-40 persen.

"Angka penerimaan negara yang rendah menunjukkan bahwa kita masih menjual bahan mentah. Nilai tambah terbesar justru dinikmati di luar negeri," ujar Dany.

Baca Juga: Pesan Pemerintah di HPN 2026: Pers Diminta Kian Profesional dan Bertanggung Jawab

Selain fokus pada hasil tambang utama, Dany menjelaskan bahwa peluang besar juga terdapat pada sumber daya sekunder, limbah industri, hingga sektor perikanan yang selama ini belum tergarap optimal.

Menurutnya, monetisasi potensi tersebut akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global dan memperpanjang umur ekonomi sumber daya alam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zahar Ali

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X