pinrang

Harga Plastik Naik hingga 100%, Pedagang Es Teh di Pinrang Terjepit, Untung Kian Tipis

Senin, 13 April 2026 | 18:55 WIB
Aktivitas jual beli es teh di tengah kenaikan harga bahan baku plastik yang menekan biaya operasional pedagang kecil (Z.A)

PINRANG.24JAMNEWS.COM - Lonjakan harga plastik yang terjadi secara nasional mulai dirasakan dampaknya hingga ke pelaku usaha kecil di daerah.

Di Kabupaten Pinrang, kenaikan bahan baku ini menekan langsung biaya operasional para pedagang, terutama sektor UMKM.

Sejak April 2026, harga plastik dilaporkan meningkat antara 30 hingga 100 persen. Kenaikan ini dipicu oleh terganggunya pasokan minyak dunia akibat konflik geopolitik global, yang berdampak pada bahan baku plastik impor di Indonesia.

Baca Juga: Kunjungan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, SMA Negeri 7 Pinrang Jadi Sekolah Inspiratif dalam Pengelolaan Lingkungan

Kondisi tersebut kini dirasakan oleh pelaku usaha kecil di Desa Makkawaru, Kecamatan Mattirobulu. Salah satunya adalah Yuni, pedagang es teh yang harus menghadapi lonjakan biaya harian.

Saat ditemui pada Senin, 13 April 2026, Yuni mengungkapkan bahwa modal operasionalnya meningkat drastis dibanding sebelumnya.

"Dulu, kebutuhan belanja (modal) untuk operasional sehari-hari hanya sekitar Rp100 ribu. Sekarang, saya harus merogoh kocek Rp200 ribu hingga Rp250 ribu hanya untuk kebutuhan yang sama," ungkapnya.

Baca Juga: HUT ke-66 Pinrang, Bantuan Rp5 Miliar Difokuskan ke Warga dan Ekonomi Produktif

Ia menjelaskan, kenaikan harga bahan baku seperti cup dan cup sealer menjadi salah satu penyebab utama membengkaknya biaya.

Sebelumnya, harga cup hanya sekitar Rp18 ribu per pak, kini naik menjadi Rp30 ribu. Sementara cup sealer mengalami kenaikan dari Rp38 ribu menjadi Rp58 ribu.

Kondisi ini membuat keuntungan yang diperoleh semakin tipis dan tidak sebanding dengan peningkatan biaya operasional.

Baca Juga: Progres Jalan MYP Pinrang Tembus 57 Persen, Gubernur Turun Langsung Pantau Lapangan

Situasi tersebut menempatkan Yuni pada posisi dilematis. Ia harus memilih antara menaikkan harga jual atau mempertahankan pelanggan di tengah tekanan biaya.

“Kalau harga dinaikkan, takut pelanggan protes atau beralih. Tapi kalau tetap, keuntungan yang didapat sekarang sangat tipis,” keluhnya.

Halaman:

Tags

Terkini